Seputar Bugis

Website dan Warna

Pengunaan warna website adalah suatu hal yang penting untuk diperhatikan, karena warna dapat mempengaruhi orang yang melihatnya. Oleh karena itu, mengenali karakteristik dari warna menjadi amat penting.

Karakteristik warna tersebut antara lain:
  1. Abu-abu. Warna ini adalah warna netral, sehingga dapat dikombinasikan dengan warna-warna lainnya. Abu-abu cocok digunakan sebagai background.
  2. Merah. Warna ini menggambarkan semangat, sehingga banyak ahli feng-sui menyarankan warna merah untuk menambah semangat. Warna merah cocok digunakan untuk menarik perhatian dan tombol “Beli”.
  3. Hijau. Warna hijau adalah warna alam, warna yang menyejukkan mata dan melambangkan keamanan. Cocok digunakan pada website yang mementingkan unsur keamanan, seperti obat-obatan, dan obat semprot nyamuk.
  4. Biru. Warna ini melambangkan ketentraman dan merupakan warna yang sering digunakan. Hindari penggunaan warna biru pada website tentang makanan, karena dapat menghilangkan selera.
  5. Hitam. Warna yang melambangkan kekuatan, misteri, dan ketakutan. Warna hitam dapat digunakan untuk menonjolkan warna lainnya.
  6. Kuning. Warna kuning adalah warna yang gembira, dan optimisme. Warna ini tidak cocok digunakan pada website untuk lanjut usia, karena dapat membuat mereka gelisah.
  7. Ungu. Warna ungu menggabungkan kententraman dari biru dan semangat dari merah. Warna ungu disenangi oleh anak-anak kecil.
  8. Coklat. Warna yang juga melambangkan alam, kenyamanan, dan ketahanan. Hindari penggunaan warna ini pada website wanita.
READ MORE - Website dan Warna

Bedah Lagu "Ongkona Bone"

Pendahuluan

Lagu dengan judul Ongkona Bone tersusun dari syair-syair / kalimat yang menggunakan bahasa Lontara atau bahasa Bugis. Dan telah disepakati sebagai lagu wajib bagi masyarakat Kabupaten Bone baik di tingkat sekolah maupun umum.
Lagu tersebut biasanya dinyayikan dalam kegiatan seremonial Hari Jadi Bone atau pada kegiatan lomba yang diselenggarakan di sekolah-sekolah baik bentuk solo maupun paduan suara. Lagu Ongkona Bone sampai saat ini belum diketahui dengan pasti kapan diciptakan dan siapa penciptanya. Namun apabila kita membedah bahasanya serta menghubungkan dengan sejarah , maka kemungkinan besar lagu tersebut tercipta sekitar tahun 1905 yaitu pada saat terjadinya perang antara Kerajaan Bone melawan pasukan Belanda. Ribuan laskar kerajaan Bone yang gugur dalam pertempuran itu. Di sepanjang pantai Teluk Bone diserang habis-habisan oleh tentara Belanda. Karena persenjataan yang tidak seimbang, maka tentara Belanda berhasil menguasai kerajaan Bone. Jatuhnya Kerajaan Bone inilah yang dikenal Peristiwa Rumpa’na Bone 1905.
Lagu Ongkona Arungpone atau lebih dikenal Ongkona Bone seperti telah dipaparkan di atas, terjalin dari syair-syair yang mengandung makna, nilai, dan nasihat yang sangat dalam. Dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Makna dan Bedah Syair

Lagu Ongkona Bone mengisahkan seorang isteri melepas sang suami berangkat ke medan juang untuk mempertahankan Tana Bone dari serangan armada laut Belanda. Sang suami sebagai laskar Kerajaan Bone tentu berkewajiban mempertahankan Tana Bone sejengkal demi sejengkal hingga titik darah penghabisan. Dengan iringan doa restu sang isteri maka berangkatlah sang suami bertempur melawan tentara Belanda di pantai BajoE. Setelah tujuh hari tujuh malam pertempuran berkecamuk, maka terdengar kabar bahwa suaminya telah gugur. Namun sang isteri tidak yakin begitu saja kalau suaminya telah gugur. Maka sang isteri berangkat mencari suaminya. Tak peduli siang atau malam , tetap berjalan dan mencari tahu akan keberadaan suaminya.

Dikala sang isteri beristirahat dalam pencariannya, maka mereka bersenandung untuk menghibur diri dan merenungi nasibnya :

O ... Mate Colli, Mate Collini Warue (Waru adalah sebuah nama pohon/tumbuhan dalam bahasa Bugis disebut Kubba. Pohon Kubba tersebut memilki ranting mengandung getah yang dapat digunakan untuk membuat keriting rambut)

Ritoto baja-baja alla Ritoto baja-baja ( Setiap hari dipangkas)

Alla nariala kembongeng ( Diambil untuk dijadikan kembongeng. Kembongen artinya alat penggulung rambut dari pohon Kubba / pohon waru )

O ... Macilaka, Macilakani Kembongeng ( celakalah penggulung rambut )

Nappai ribala-bala alla nappai ribala-bala ( baru dibentuk-bentuk)

Namate puangna (puangna bermakna simbolis artinya pohon kubba/ waru, mati karena setiap hari dipangkas untuk dijadikan penggulung rambut)

O ... Taroni Mate, Taroni Mate Puangna ( Biarlah mati , biarlah mati pohon Kubba / Waru)

Iyapa upettu rennu alla iyapa upettu rennu ( barulah putus harapan dan menyerah )

Kusapupi mesana ( Bila kupegang batu nisannya)

Penjelasan :

Sang isteri menggulung rambutnya agar menjadi indah dengan maksud untuk menghadiahkan kepada suaminya apabila kembali dari medan peperangan. Akan tetapi pohon Waru / Kubba menjadi layu dan mati karena setiap hari dipangkas untuk dijadikan sebagai penggulung rambut/kembongeng. Padahal rambutnya baru mulai terbentuk, apa daya pohon waru/kubba keburu layu dan mati.

Matinya pohon waru/kubba sebenarnya merupakan sebuah alamat atau pertanda bahwa suaminya telah tewas dalam peperangan. Namun Sang isteri tetap bersemangat. Ditanamkan dalam hati , bahwa suaminya belum meninggal. Kecuali memegang dan mengusap batu nisannya baru percaya.

2. Nilai Syair

Seperti halnya dengan lagu-lagu lain, maka syair-syair yang terjalin dalam lagu Ongkona Bone juga mengandung dan sarat dengan nilai-nilai. Nilai- nilai yang terkandung adalah
  1. Memupuk Jiwa Patriotisme dan Nasionalisme.
  2. Bahwa setiap perjuangan memerlukan pengorbanan baik jiwa, raga, dan materi.
  3. Menggambarkan, bahwa kepentingan umum walau pahit dan getir lebih mulia dibanding kepentingan pribadi.
  4. Mengandung nilai historis
3. Pesan dan Nasihat

Perlu dipahami , bahwa syair-syair yang terkandung dalam lagu Ongkona Bone terdiri atas tiga bagian, yakni bait pertama dan kedua bermakna simbolis atau pelambang sedang bait ketiga mengandung semangat. Mate Colli bukanlah bermakna layu sebelum berkembang akan tetapi dalam dunia seni hanya menggambarkan kemampuan ekspresi seseorang dalam menyampaikan sebuah pesan.

Namate Puangna bukanlah bermakna Tuhan yang mati akan tetapi sejenis tumbuhan yang disebut pohon waru/kubba yang dijadikan sebagai simbol bagi penciptanya. Mengapa pohon tersebut mati ? Karena setiap hari dipangkas untuk dijadikan sebagai alat penggulung rambut. Ranting pohon tersebut memilki getah yang dapat membuat rambut menjadi keriting.

Pada hakikatnya pesan/nasihat yang terkandung dalam syair lagu Ongkona Bone adalah :
  1. Janganlah mudah mempercayai informasi yang kurang jelas dan tidak bertanggung jawab.
  2. Setiap pekerjaan harus dilandasi dengan semangat.
  3. Syair lagu merupakan ungkapan cipta, rasa, dan karsa.

Oleh : Mursalim, S.Pd., M.Si. (Direktur Lembaga Seni Budaya Teluk Bone)
READ MORE - Bedah Lagu "Ongkona Bone"

Memahami Riwayat Raja Bone ke-1

DALAM Sejarah Sulawesi Selatan, dikenal tiga kerajaan besar, yaitu Luwu, Gowa, dan Bone. Ketiga kerajaan ini memiliki sebutan atau gelaran yang berbeda untuk Rajanya. Gelar Raja Luwu adalah Datu Mappanjunge’ ri Luwu, artinya Raja yang berpayung di Luwu atau raja yang menaungi di Luwu. Dalam penulisan, kadang hanya disebut Datu Luwu, Pajung Luwu atau Pajunge’, maka sebenarnya yang dimaksudkan itu adalah Raja Luwu. Untuk Kerajaan Gowa, gelar rajanya disebut Karaeng Sombayya ri Gowa, artinya Raja yang disembah di Gowa. Dalam penulisan, kadang hanya disebut Karaeng Gowa, Somba Gowa, KaraengE ri Gowa atau cukup disebut KaraengE, maka sebenarnya yang dimaksudkan itu adalah Raja Gowa.

Lain Luwu dan Gowa, Kerajaan Bone pun punya gelaran tersendiri untuk rajanya, yaitu Arung Mangkaue’ ri Bone, artinya Raja yang berkedudukan di Bone. Dalam penulisan, biasa gelar raja itu dipersingkat, seperti Arumpone, MangkauE, atau ArungE’ ri Bone maka sebenarnya yang dimaksudkan itu adalah Raja Bone. Dalam upaya memahami Sejarah Kerajaan Bone, kita akan menemui banyak sebutan untuk Raja dan bangsawan tinggi karena memang Budaya Bugis itu melarang (dianggap tabu’ / pamali / dosa) jika menyebut langsung nama seseorang yang dihormati, khususnya Raja. Sebagai contoh, Raja Bone VI. Nama sebenarnya adalah La Uliyo, lebih sering disebut Bote’E karena tubuhnya yang gempal dan subur. Setelah seorang raja meninggal maka lebih sering disebut nama meninggalnya, seperti MatinroE ri Itterung, yang artinya Raja yang meninggal di Itterung.

Nama Raja / Bangsawan tinggi Bone yang banyak disebut dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone—sumber tertulis dari Lontaraq tentang sejarah dan silsilah Raja Bone—umumnya untuk Raja laki – laki, namanya diawali dengan kata depan La seperti La Ummase’, sedang untuk raja / bangsawan perempuan, namanya dimulai dengan kata depan We, seperti We Banri Gau. Sebutan bangsawan tinggi yang umum dipakai di Bone dibawah Raja adalah Petta. Misalnya Petta Pungawae, sebutan untuk Panglima tertinggi militer Bone. Gelar kerajaan lainnya yang ada di Sulawesi Selatan juga punya karakteristik tersendiri. Kerajaan Soppeng, rajanya disebut Datu Soppeng, Kerajaan (Addatuang) Sidenreng, rajanya juga disebut Datu Sidenreng. Untuk Kerajaan Wajo, rajanya disebut Arung Matowa Wajo.

Dalam memahami Riwayat Raja Bone, perlu pula diketahui sebelumnya Struktur Pemerintahan yang berlaku pada masa Kerajaan tersebut, yaitu terdiri dari Arung Mangkaue’ ri Bone (Raja Bone) sendiri, dibawahnya ada Makkadangen Tana yang bertugas dalam urusan hubungan kerajaan lain (Menteri Luar Negeri), Tomarilaleng yang bertugas dalam urusan dalam kerajaan (Menteri dalam Negeri). Tomarilaleng ini disebut juga Ade Pitu (Hadat Tujuh), karena terdiri dari tujuh orang pembantu utama / pemimpin dalam pemerintahan Bone, yaitu Arung Ujung (mengepalai urusan Penerangan Kerajaan Bone), Arung Ponceng (mengepalai urusan Kepolisian / Kejaksaan dan Pemerintahan), Arung Ta’ (mengepalai urusan pendidikan dan mengetuai urusan perkara sipil), Arung Tibojong (mengepalai urusan perkara / Pengadilan Landschap / hadat besar serta mengawasi urusan perkara Pengadilan Distrik), Arung Tanete Riattang (mengepalai memegang kas Kerajaan, mengatur Pajak dan dan Pengawasan Keuangan), Arung Tanete Riawang (mengepalai Pekerjaan Negeri atau Landschap Werken-LW) Pajak Jalan dan Pengawas Opzichter) serta Arung Macege (mengepalai Urusan Pemerintahan Umum dan Perekonomian).

Makkadangen Tana juga membawahi langsung Ponggawa (Panglima Perang) yang bertanggung jawab urusan pertahanan. Bertugas dibidang Pertahanan. Dibawah Punggawa, ada Pangngulu Lompo (mengkoordinir pasukan dari rakyat Tana Bone), Dulung (semacam Panglima Daerah, bertugas mengoordinir daerah kerajaan bawahan, dibagi atas dua Dulung, yakni Dulungna Ajangale yang mengontrol kawasan Bone Utara dan Dulungna Awang Tangka yang mengontrol Bone Selatan), Pangngulu Caddi (wakil dari Pangngulu Lompo), Anre Guru (mengoordinir pasukan elit kerajaan), dan Passiuno (pasukan siap tempur yang rela mengorbankan jiwa raganya demi tegaknya kedaulatan Kerajaan Bone). Secara berstruktur Tomarilaleng / Ade Pitu membawahi Tomarilaleng Lolo, Arung Palili / Sullewatang (Raja negeri bawahan / raja muda) dan Kepala Kampung.

Selain itu, ada pula jabatan dalam Kerajaan yang disebut Jennang (Pengawas) yang tugasnya di bidang pengawasan baik dalam lingkungan istana, maupun dengan kerajaan bawahan. Ada pula Bissu, yang tugasnya merawat benda pusaka Kerajaan, disamping melaksanakan pengobatan tradisional dan pendeta dalam hal kepercayaan terhadap Dewata SeuuwaE. Setelah masuknya Agama Islam di Kerajaan Bone, kedudukan Bissu di non-aktifkan dan digantikan dengan Kadhi (Ulama) yang perangkatnya terdiri dari Imam, Khatib, Bilal dan lain-lain yang bertugas sebagai Penghulu Syara dalam Bidang Agama Islam. Kadhi (Ulama) ini sangat disegani bahkan Mangkaue’ (Raja Bone) sering meminta Fatwa langsung, khususnya menyangkut hukum Islam.
READ MORE - Memahami Riwayat Raja Bone ke-1

Riwayat Raja Bone ke-10 : We Tenri Patuppu Maddusila

We Tenri Patuppu menggantikan ayahnya menjadi Arumpone. Inilah Mangkau’ yang mula-mula mengangkat Arung Pitu (tujuh pemegang adat) di Bone, yaitu Matowa Tibojong (Arung Tibojong), Matowa Ta’ (Arung Ta’), Matowa Tanete (Arung Tanete), Tanete dipecah menjadi Tanete Riattang dan Tanete Riawang, Matowa Macege (Arung Macege), Matowa Ujung (Arung Ujung) dan Matowa Ponceng (Arung Ponceng). Kepada Arung PituE, Arumpone berpesan, ”Saya mengangkat Arung Pitu untuk membantu penyelenggaraan pemerintahan Bone. Hal ini saya lakukan karena sebagai seorang perempuan tentunya memerlukan bantuan. Namun saya mengangkatmu menjadi pemegang adat, tetapi kalian tetap tidak bisa melangkahi adat Bone, tidak bisa menyatakan perang, tidak bisa mewariskan kepada anak cucu, kalau saya tidak mengetahuinya. Kecuali apabila duduk semua turunan MappajungE kemudian direstui oleh Mangkaue’. (Kasim, 2002)

Pada masa kekuasaan Raja Bone X, We Tenri Patuppu (1602 – 1611), KaraengE ri Gowa datang ke Ajattappareng membawa Agama Islam. Sepakatlah TellumpoccoE (Bone, Soppeng dan Wajo) untuk menghalangi, sehingga KaraengE ri Gowa kembali. Setahun kemudian Gowa datang lagi ke Padangpadang, namun tetap dihalangi TellumpoccoE. Akhirnya terjadilah perang di sebelah timur Bulu’ Sitoppo dengan kekalahan TellumpoccoE. (Makkulau, 2009).

Gowa melanjutkan penyebaran Agama Islam, Soppeng dengan mudah dikalahkan tanpa bantuan Bone dan Wajo Datu Soppeng, BeowE dan rakyatnya menerima Islam (1609), setelah itu Wajo pun ditaklukkan. Arung Matowa Wajo La Sangkuru dan rakyatnya juga menerima Islam (1610). Sementara itu, We Tenri Patuppu pergi ke Sidenreng untuk mencari tahu tentang Islam dari Addatuang Sidenreng La Patiroi dan disanalah Arumpone masuk Islam. Di Sidenrenglah beliau sakit yang menyebabkan meninggal dunia hingga digelari MatinroE ri Sidenreng (1611). (Kasim, 2002 dalam Makkulau, 2009).

Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa We Tenri Patuppu kawin dengan La Paddippung Arung Barebbo, hingga lahirlah anaknya La Pasoro, inilah yang kawin dengan We Tasi, lahirlah La Toge MatinroE ri KabuttuE. La Toge kawin dengan We Passao Ribulu, lahirlah We Kalepu yang kawin dengan Daeng Manessa Arung Kading. Setelah We Tenri Patuppu bercerai dari Arung Barebbo, maka kawin lagi dengan To LewoE Arung Sijelling, anak Arung Mampu Riawa. Dari perkawinannya lahirlah anaknya La Maddussila, We Tenri Tana, We Palettei, La Palowe. La Maddussila Arung Mampu juga digelar MammesampatuE (memakai nisan batu). Pergi ke Soppeng dan kawin dengan We Tenri Gella, saudara Datu Soppeng BeowE. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Bali yang kawin di Bone dengan sepupu satu kalinya We Bubungeng I Dasajo.

We Bubungeng dan La Tenri Bali melahirkan anak La Tenri Senge’ Toasa Datu Soppeng. Yang kedua bernama We Yadda MatinroE ri Madello juga Datu Soppeng. We Tenri Tana Arung Mampu Riawa kawin dengan LebbiE ri Kaju yang melahirkan We Tenri Sengngeng, yang kawin dengan La Poledatu Rijeppo saudara Datu Soppeng anak La Maddussila Arung Mampu MammesampatuE dengan isterinya We Tenri Gella. Inilah yang melahirkan La PatotongE, La PasalappoE, La Pariusi Daeng Mangatta. La Pariusi Daeng Mangatta inilah yang menggantikan Petta I Tenro menjadi Arung Mampu Riawa yang juga pernah menjadi Arung Matowa Wajo.

La PallempaE atau La Pasompereng Petta I Teko kawin dengan KaraengE ri Gowa. Dari perkawinannya lahirlah We Yama dan We Alima. We Alima kawin dengan KaraengE ri Gowa Tumenanga ri Pasi. Lahirlah I Baba Karaeng Tallo. La Pasompereng diasingkan oleh Kompeni sebab perselingkuhan isterinya dengan Sule DatuE di Soppeng yang bernama Daeng Mabbani. Dia membunuh Sule datuE di Soppeng maka diasingkanlah ke Selong. Anak terakhir dari We Tenri Patuppu MatinroE ri Sidenreng adalah ; We Palettei KanuwangE, kawin dengan pamannya La Tenri Pale To Akkeppeang MatinroE ri Tallo. Tidak ada keturunannya, sehingga MatinroE ri Tallo kawin lagi dengan anak Datu Ulaweng.
READ MORE - Riwayat Raja Bone ke-10 : We Tenri Patuppu Maddusila